Bahasan mengenai supply chain (rantai pasok) merupakan hal yang masih termasuk baru, dan masih terus dikembangkan. Ditambah dengan isu lingkungan yang saat ini sedang gencar diserukan. Menanggapi hal ini, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta mengadakan seminar nasional bertajuk “Green Supply Chain dalam Rangka Menciptakan Keuntungan Kompetitif Menghadapi Persaingan Global”, pada Senin (22/5).

Seminar tersebut berlangsung cukup meriah. Hadir dalam seminar tersebut 187 peserta mahasiswa dan 15 orang dosen dari Teknik Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND, serta 15 orang mahasiswa dari beberapa pergurunan tinggi yang lain di Yogyakarta. Seminar ini berlangsung pada pukul 09:00 sampai dengan 16:00. Acara tersebut diawali dengan pembukaan oleh MC, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sambutan-sambutan oleh ketua HMTI, Asep Sutiana, ketua panitia, Rohmat Tulloh, Ketua Jurusan Teknik Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Endang Widuri Asih, S.T., MT., dan kemudian acara secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND, Dr. Ir. Toto Rusianto, MT.

Seminar nasional Green Supply Chain ini dibagi menjadi 2 sesi, pemateri pertama adalah Prof. Dr. Ir. Senator Nur bahagia, yang merupakan dosen Jurusan Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan moderator Cyrilla Indri Parwati, S.T., MT., dosen Teknik Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND. Narasumber kedua adalah Marzani Romadhsept Usman, B.E., MBA., seorang praktisi yang telah lama berpengalaman di bidang Supply Chain, dengan moderator Mega Inayati Rif’ah, S.T. M.Sc, dosen Teknik Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND. Marzani saat ini menjabat sebagai General Manager pada PT. Indofood (Salim Group Indonesia). Diharapkan peserta seminar dapat memperoleh gambaran lengkap mengenai konsep Green Supply Chain, baik dari sisi teorinya maupun implementasinya di perusahaan secara riil.

Senator mengatakan bahwa, terdapat dua kata kunci utama dalam Teknik Industri, yakni produktif dan efisien. Dalam Islam, Senator mengatakan, bahkan ketika malaikat protes dengan mengatakan bahwa manusia itu suka berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah, manusia tetap dipercaya oleh Tuhan sebagai kholifah di bumi. Itulah mengapa kita berkewajiban untuk menjaga lingkungan. Itulah mengapa konsep ‘green’ itu perlu. Jika kita memasukkan ‘green’ dalam Teknik Industri, maka artinya dalam rangka mewujudkan produktif dan efisien tersebut, kita atau perusahaan, jangan sampai merusak lingkungan.

Terdapat beberapa era perkembangan industri. Era mass production (1950n) berasal dari ide economic of scope (fokus), sehingga dapat memproduksi dalam jumlah banyak untuk bisa efisien (economic of scale). Era tersebut masih berfokus pada keinginan produsen. Selanjutnya mulailah diperhatikan juga keinginan konsumen pada era new product (1960n), sehingga muncullah beberapa tipe (varian) produk sesuai keinginan konsumen.

Untuk dapat mempertahankan efisiennya, namun tetap memperhatikan keinginan konsumen, maka pihak manufaktur mulai menyesuaikan dari sisi teknologi mesinnya. Inilah yang kemudian disebut sebagai era low cost manufacturing (1970n).

Diperlukan standar kualitas tertentu untuk mengembangkan teknologi mesin agar dapat membuat produk yang bervariasi dengan efisien. Maka kemudian berkembanglah era total quality service (1980n), dimana kualitas itu dibudayakan sudah embedded dalam diri setiap pekerja/operator.

Era supply chain management (2000n) merupakan era jaringan, sehingga persaingan itu bukan antar produk, bukan antar perusahaan, namun persaingan antar jaringan. Dalam suatu supply chain, tidak hanya terdiri dari bagian manufakturnya, namun juga termasuk supplier dan distributornya. Sedangkan green supply chain pada dasarnya adalah berusaha meminimasi dampak lingkungan pada setiap aktivitas dalam supply chain.

Narasumber kedua, Marzani Usman, B.E., MBA., adalah seorang praktisi yang sudah banyak pengalaman di beberapa perusahaan di beberapa negara, mulai dari USA, Eropa, Singapura, dan sekarang di Indonesia. Materi yang Marzani paparkan lebih menekankan pada contoh riil pengaplikasian green supply chain pada beberapa perusahaan, diantaranya adalah Danone dan Indofood. Selain memaparkan materi, Marzani juga berpesan kepada para mahasiswa yang hadir, bahwa kita harus memiliki skill dan kesempatan untuk dapat berhasil. Agar dapat berhasil dalam bidang apapun, yang terpenting adalah attitude yang baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here